Mgkn saja kitalah yg blm mggunakn "moccasins" nya masy. Br2 ini terbit newspaper dengan berita terkait Tata Ruang yg berisiko akibat mbangun di sekitar DAS. Kadangkala saya pun btanya2 yg kini diantara "dualisme (saya ini rakyat ataukah pemerintah)". Alasan mbangun d wlyh rawan bencana, knp tdk mau direlokasi, dsb. Menarik garis pd kbebasan tanah menjadi hak milik perseorangan dan harga2 yg melambung dipermainkan swasta, yg entah ingin cepat kaya ataukah krn efek domino inflasi pendidikan 20%, atau semakin mahalnya biaya hidup atau life style? Kenyataannya sbgmnpun berusaha mencegah victims akibat pmbangunn d daerah rawan adapula pihak2 yg tdk memahami dan menoreh luka shg demikianlah dibangun. Pola2 berlanjut dg harga tak tjangkau shg keterpaksaan mbawa masy tinggal ditempat yg tak semestinya ditinggali. Ada apa kota? Ataukah desa? Bgmn jg dg nasib hutan yg diluluhlantakkan sesuap demi sesuap? Tak nyamannya berdikari bagaikan nyaman sndr, sbnrnya pun remuk hati i...