Ketika hujan mengguyur perbukitan yang telah gundul, dan air berlomba membawa tanah turun ke sungai, banyak dari kita menyebutnya bencana: erosi. Tanah longsor, banjir, sedimentasi. Tapi benarkah erosi adalah musuh? Ataukah ia hanyalah suara pelan dari bumi yang berkata, “Lihatlah aku. Aku butuh kamu menanami kembali.”
Dalam ilmu geografi dan konservasi, erosi
adalah proses alami—air, angin, atau es menggerus partikel tanah dan memindahkannya
ke tempat lain. Tapi erosi yang liar dan merusak biasanya terjadi karena satu
hal: hilangnya vegetasi. Akar-akarlah yang selama ini mengikat bumi agar
tak tercerai-berai. Dan saat manusia menebangnya tanpa kendali, tanah pun
merespons: ia pergi.
Dalam pandangan ekologi, kita belajar bahwa
bumi punya carrying capacity, daya dukung. Saat manusia memaksakan lebih
dari itu—lahan dibuka tanpa henti, sawah dipaksa panen terus menerus, bukit
dikikis demi jalan tol—maka bumi mencari cara untuk menyeimbangkan ulang. Erosi
pun menjadi bagian dari mekanisme itu. Ia seperti “sistem imun” alam yang
memberitahu bahwa sesuatu telah keliru.
Tapi mari kita tengok lebih dalam. Erosi tidak
hanya membawa tanah menjauh, ia juga menciptakan kesuburan baru.
Lihatlah delta Nil di Mesir, atau dataran aluvial di sepanjang sungai-sungai
besar dunia. Tanah yang terbawa arus menjadi anugerah di tempat lain.
Seolah-olah bumi memindahkan harapan.
Maka erosi bukan semata-mata hukuman,
melainkan proses pendidikan. Ia adalah sekolah bumi yang
mengajarkan manusia untuk tidak serakah, untuk menanam kembali, untuk
memperlakukan tanah sebagai warisan, bukan alat eksploitasi.
Mungkin Tuhan menciptakan erosi agar kita tidak
lupa menanam.
Agar kita sadar, bahwa akar bukan hanya bagian dari tanaman, tapi juga bagian
dari harapan.
Agar kita ingat, bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab, bukan pilihan.
Dan mungkin, justru dari runtuhnya peradaban
Mesopotamia, bangsa Maya, dan Angkor Wat, kita mewarisi pelajaran ini:
Bahwa peradaban hanya akan bertahan jika manusia hidup berdampingan dengan
tanah.
Comments
Post a Comment