Halo, aku seorang peneliti yang memilih untuk pindah ke jabatan fungsional Perencana.
Kenapa?
Kupikir perencana ini sangat "sexy" dan strategis dalam pembangunan. Kenyataannya setelah aku mutasi ke tempat yang lebih powerful lagi, memang pekerjaan perencana menjadi suatu penentu, seperti tangan kedua pimpinan (meskipun masih di level dasar pun).
Ya, keyakinan saya akan perencana memiliki posisi yang sangat penting dalam pembangunan itu benar. Apabila sebagai peneliti, kita terbiasa menghasilkan pengetahuan: merumuskan masalah, melakukan riset, menemukan temuan, dan memberikan rekomendasi kepada stakeholder--yang ujung-ujungnya adalah menulis paper paper entah dibaca, dikutip atau tidak dibaca & tidak dikutip (yang dahulu aku sempat kecewa kenyatan pahitnya susah-susah menulis tapi tidak selalu dianggap disudut pandang stakeholder), maka Perencana memiliki tantangan yang berbeda karena dalam tubuh stakeholder itu sendiri. Ya, pemerintah, yang menjadi pemegang keputusan/decision maker (tentu saja aslinya RI1 dan Menteri-Menteri nya sebagai kepala, kita sebagai gawe hanya mengakomodir saja perintah biasanya--sistem yang terkadang (maaf) kurang demokratis.
Namun, Perencana tidak hanya dituntut untuk punya gagasan, tetapi juga harus mampu menerjemahkan berbagai persoalan, data, kepentingan, sumber daya, dan regulasi menjadi pilihan kebijakan dan perencanaan pembangunan.
Dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan pembangunan nasional didefinisikan sebagai suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.
Dan ternyata…
menjadi Perencana tidak sesederhana yang dulu aku bayangkan. 😅
Karena masih baru, dan masih belajar, banyak hal yang belum aku kuasai—mulai dari policy analysis, penyusunan prioritas, analisis alternatif kebijakan, sampai bagaimana mengambil keputusan ketika sumber daya terbatas tetapi masalah yang harus diselesaikan begitu banyak.
Karena itu, daripada hanya belajar diam-diam, aku memutuskan untuk mendokumentasikan proses belajarku sebagai Perencana.
Bukan karena aku sudah ahli. Justru karena aku sedang belajar.
Aku ingin mencatat bagaimana seorang peneliti dengan latar belakang geografi dan lingkungan mencoba bertransformasi menjadi Perencana yang mampu berpikir lebih tajam, menganalisis masalah dengan lebih baik, dan pada akhirnya menghasilkan perencanaan yang benar-benar berguna bagi pembangunan. (Mudah-mudahan).
Mungkin perjalanan ini akan penuh dengan:
salah → belajar → mencoba → dikritik → memperbaiki → mencoba lagi.
Dan kalau proses belajarku ternyata juga bisa membantu orang lain yang sedang belajar menjadi Perencana, policy analyst, atau sekadar ingin memahami bagaimana keputusan pembangunan dibuat, tentu akan jauh lebih berarti.
Jadi, mulai sekarang:
Aku akan (mencoba) belajar di depan publik.
Bukan untuk menunjukkan bahwa aku sudah pintar. (Sebenernya gak terlalu pede, sih, hahaha).
Tapi untuk menunjukkan bagaimana seseorang belajar menjadi lebih baik. (Bismillah, wish me luck!)
Kalau kamu juga sedang belajar tentang perencanaan, kebijakan publik, pembangunan, lingkungan, atau hal-hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan publik—
mari belajar bersama. 🌱
#BuildInPublic #PolicyPlanning #Perencana #PolicyAnalysis #PublicPolicy #LearningJourney
Comments
Post a Comment